Trans7 Tak Perlu Minta Maaf Karena itu Fakta, Sistem Feodalisme di Pesantren yang dibalut Dengan Agama


Oleh : Muh. Ilham 

“Tuhan Menciptakan Akal Untuk Berfikir Bukan Tunduk Dan Patuh Pada Sistem Feodalisme Yang Tumbuh Sejak Dari Rahim”

Dalam hiruk-pikuk media sosial pasca tayangan Xpose Uncensored Trans7 tentang Pondok Pesantren Lirboyo, publik seolah dipaksa memilih dua kubu: antara yang menuduh Trans7 menista pesantren, dan yang berteriak bahwa tayangan itu adalah kebenaran pahit yang selama ini ditutupi. Di tengah debat yang panas, satu hal yang jelas Trans7 tak seharusnya minta maaf untuk sesuatu yang, bagaimanapun, berangkat dari realitas yang memang ada. Mari kita jujur. Ada hal-hal yang terlalu sering dibungkus kata tradisi, padahal hakikatnya adalah bentuk feodalisme yang diberi jubah agama.

Feodalisme yang Dibelai Atas Nama Adab

Di banyak pesantren tradisional, relasi antara kiai dan santri tidak sekadar guru-murid. Ia seperti dewa dan hamba. Santri tidak hanya menghormati, tapi juga meniadakan dirinya sendiri. Adab kepada guru, sering dimaknai sebagai kepatuhan mutlak, bahkan pada hal-hal yang tidak rasional.

Cium tangan, Jalan berjongkok, membungkuk, itu bisa jadi latihan kesopanan. Tapi ketika rasa hormat berubah menjadi kultus individu, kita sedang bicara tentang kekuasaan, bukan pendidikan.

Hormat kepada guru itu mulia. Tapi ketika penghormatan berubah menjadi pemujaan simbolik yang menempatkan santri pada posisi hina itu bukan lagi pendidikan karakter, melainkan pelestarian feodalisme dengan dalil agama.

Dan di titik itulah bahwa memang benar ada pola feodal di balik kultur pesantren yang jarang mau diakui, bahkan oleh para alumninya sendiri.

“Ngalap Berkah” atau Eksploitasi Berkedok Ibadah?

Santri itu membantu kiai demi ngalap berkah. Kalimat sakti yang bisa menyulap eksploitasi menjadi amal.

Kata “pengabdian” menjadi kata kunci yang sering disalahpahami. Santri membantu kiai di dapur, sawah, atau rumah bukan karena diperintah, katanya, tapi karena ingin ngalap berkah. Tapi apakah semua santri melakukannya secara sukarela? Apakah mereka berani menolak tanpa risiko dicap kurang ajar atau “belum ikhlas”?

Di ruang tertutup seperti pesantren, hierarki dan tekanan sosial sangat kuat. Ketika seseorang berada di posisi bawah dalam sistem yang menuhankan adab, pilihan “sukarela” sering kali semu.

Apakah itu berarti semua pesantren menindas? Tentu tidak. Tapi apakah praktik semacam itu eksis dan lumrah? Iya, dan itulah kenyataan yang tidak nyaman tapi harus diakui.

Kritik Tak Sama dengan Penistaan

Masalahnya, banyak yang gagal membedakan antara kritik terhadap sistem dan penghinaan terhadap simbol agama. Trans7 tidak sedang menyerang Islam, apalagi pesantren sebagai lembaga keagamaan. Tayangan itu menyerang praktik sosial yang tidak sehat, yang kebetulan terjadi di dalam pesantren.

Mengatakan “ada feodalisme di pesantren” tidak sama dengan mengatakan “Islam menindas.” Seperti halnya mengkritik korupsi di masjid bukan berarti menghina Islam, tapi menolak manusia-manusia yang menyalahgunakan simbol agama untuk mempertahankan kekuasaan.

Budaya Tak Boleh Dikritik

Yang paling menakutkan dari polemik ini bukan tayangan Trans7, melainkan reaksi berlebihan yang menolak kritik sama sekali. Ketika semua kritik dilabeli “framing busuk,” bangsa ini kehilangan kemampuan untuk refleksi.

Padahal justru di sinilah pesantren bisa menunjukkan kebesaran moralnya: dengan mengakui bahwa sistem yang sudah berabad-abad itu juga butuh pembaruan. Tidak semua tradisi harus dibuang, tapi juga tidak semua tradisi pantas dipertahankan. Karena adab tanpa nalar akan melahirkan ketundukan, bukan kebijaksanaan.

Waktunya Pesantren Berbenah

Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Ia punya jasa besar membentuk karakter bangsa. Tapi jasa besar tidak boleh jadi tameng dari kritik.

Kalau pesantren ingin terus jadi mercusuar moral, maka moralitas itu harus disertai keberanian untuk berbenah.

Zaman berubah, dan pendidikan pun harus berubah. Santri bukan lagi hanya murid yang duduk bersila mendengarkan, tapi warga dunia yang berpikir kritis.

Mengakui adanya feodalisme bukan berarti membenci pesantren, melainkan mencintainya secara jujur. Karena cinta yang sejati bukanlah memuji tanpa henti, tapi berani menunjukkan cacat agar bisa sembuh.

Jadi, yang seharusnya minta maaf adalah sistem yang membiarkan feodalisme tumbuh subur dalam institusi pendidikan. Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Bumi Manusia berkata “dengan pendidikan, kau bisa membebaskan dirimu dari belenggu feodalisme” yang berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat ini.

Seharusnya yang minta maaf adalah kita yang pura-pura tidak melihat ketimpangan karena takut dianggap tidak saleh. Feodalisme itu nyata. Dia ada, berjalan, dan bernafas di serambi-serambi pesantren. Dan selama kita lebih memilih menyembunyikannya di balik jubah kesalehan, selama itu pula kita adalah bagian dari masalah.

Trans7 cuma menyalakan senter di ruang gelap. Kalau kalian marah, barangkali itu bukan karena senternya, tapi karena apa yang kalian lihat dalam cahayanya.

Trans7 memang bisa dikritik karena cara penyajian yang sensasional. Tapi secara substansi, keberanian mereka membuka tabir ketimpangan di dunia pesantren bukan kesalahan, itu fungsi sosial media: menyingkap yang disembunyikan.

Comments