Keiko Gadis Minimarket

Penulis: Firnas

Telah terbit di: Zine Asa Book Space (IG: Asa book space)

Keiko dalam Convention Store Woman karya Sayaka Murata adalah sebuah novel yang bercerita tentang perjalanan seorang perempuan untuk menjadi normal menurut standar masyarakat. Di minimarket, Keiko menemukan dirinya yang baru, yang ia gunakan untuk mendapat tempat dalam struktur sosial masyarakat.

Keiko cukup kesulitan untuk menemukan tempat di masyarakat. Hal ini ia alami dimulai sejak Keiko masih duduk di bangku sekolah. Pernah ketika Keiko masih di taman, saat itu ada seekor burung mati di taman. Burung tersebut tergelatak dengan leher patah dan mata terpejam. Ketika anak-anak lain di taman berkumpul dan berkata “bagaimana ini..?” belum selesai obrolan mereka burung itu telah ada ditangan Keiko. Dan Keiko segera membawa kepada ibunya. Sesampai di ibunya.

lantas si ibu bertanya “ada apa Keiko? Duh, burung kecil yang malang! Kata ibu Keiko dengan lembut sambal mengusap kepala Keiko. “Kasihan sekali, ayo kita kuburkan! Lanjut sang ibu.

“Ayo kita makan dia! Kata Keiko”

“Ayah suka yakitori, jadi nanti malam kita makan ini saja” lanjut Keiko

Yakitori adalah makanan khas jepang yang umumnya menggunakan daging ayam. Umunya penyajiannya daging dipotong kecil-kecil kemudian ditusuk dengan tusukan bambu lalu dibakar/dipanggang.

Pernah juga, Keiko harus berurusan dengan guru di sekolahnya. Pertama, karena telah memukul kepala salah satu anak yang sedang bertengkar dengan niat untuk menghentikan pertengkaran mereka. Dan kedua, ketika Keiko menarik rok gurunya yang sedang teriak marah-marah depan kelasnya. Saat melakukan tindakan itu, Keiko merasa apa yang ia lakukan telah tepat untuk menenangkan temannya yang sedang bertengkar dan juga ketika menenangkan gurunya yang sedang marah ia menjelaskan bahwa Keiko pernah melihat di TV seorang perempuan dewasa terdiam ketika ditelanjangi.

Setelah peritiwa itu, Keiko berhenti untuk mengambil tindakan sendiri dan lebih meniru orang lain atau mengikuti instruksi orang lain. “Dengan begitu orang dewasa sepertinya lega melihatku tidak berbicara banyak lebih dari pada yang dibutuhkan dan berhenti mengambil tindakan sendiri” kata Keiko. Namun, justru muncul masalah baru ketika Keiko duduk di bangku SMA. Baginya diam adalah cara terbaik dan rasional untuk menjalani hidup di masa SMA. Di buku laporannya tertulis “bertemanlah dan perbanyak bermain di luar”. Dan hal ini berlangsung hingga Keiko melanjutkan Pendidikan Tingginya dan menyelesaikan pendidikannya.

Proses Keiko belajar dari luar dirinya membawa saya pada salah satu tokoh Psikoanalisis yaitu Jaques Lacan dengan pernyataannya tentang pembentukan identitas subjek. Lacan memulainya dengan tahap cermin. Yang mana tahap ini ia istilahkan dengan problem identifikasi diri. Fase cermin, bagi Lacan, terjadi sejak bayi mencapai usia enam bulan. Pada tahap ini, sang anak belum mampu mendiferensiasikan dirinya dan dunia di sekitarnya—dengan kata lain, ia belum mengerti dirinya. Pengertian tentang diri ini didapat melalui citra (imago) tentang dirinya di hadapan “cermin” tentu saja, cermin ini dapat dimengerti tak hanya secara harfiah melainkan juga secara metaforis, misalnya dalam bayangan di permukaan air atau refleksi-diri sang bayi di mata ibu. Dengan kata lain, diri diperoleh melalui persepsi tentang citra visual (l’image speculaire) tentang dirinya1.

Pada tahap ini anak mengidentifikasi diri pada citraannya yang ada di cermin. Dorongan anak mempersepsikan citraan di cermin sebagai dirinya merupakan hasratnya untuk memiliki identitas. Momen ini akan senantiasa bekerja dalam rentang hidup manusia. Manusia memiliki dimensi imajiner dalam hidup psikis-nya, yaitu kecenderungan untuk mengidentifikasikan diri dengan diri ideal.

Titik balik Keiko ketika ia menghubungi sebuah nomer telp yang tertera pada poster lowongan pekerjaan yang terpajang di salah satu minimarket. Keesokan harinya Keiko dihubungi dan diwawancara. Prosesnya belangsung mudah dan langsung diterima. Keiko diminta untuk ikut dalam pelatihan karyawan minggu depan.

Dihari pelatihan tiba, para karyawan berkumpul, ada perempuan dan laki-laki dari latarbelakang yang berbeda-beda. Keiko segera diberikan seragam beserta aksesoris lengkap seorang pegawai toko. Hal pertama yang dilatih adalah cara berekspresi dan cara mengucapkan salam yang digunakan di toko. Sambil memandangi poster contoh tersenyum, Keiko mengangkat sudut mulut mengikuti wajah yang ada di poster itu. Punggung ditegakkan dan sapaan “Irasshaimse!”. Itu mereka praktekkan secara begiliran.

Dua minggu menjelang pembukaan toko, Keiko dan karyawan lainya dibagi secara berpasangan untuk berlatih sebagai seorang karyawan toko. Berlatih mengucapkan sapaan, menatap mata pelanggan, menata produk dan lain-lainya. Keiko merasa tertarik, dengan lingkungannya selama pelatihan. Yang mana para karyawan itu terdiri dari, mahasiswa, laki-laki pemain band, pegawai paruh waktu permanen, ibu rumah tangga, hingga pelajar SMA.

Tiba waktunya hari perdana pembukaan toko. Begitu toko dibuka terasa bahwa semua ini “nyata”, itu yang di rasa oleh Keiko. Ia mendapati pelanggan pertama perempuan lanjut usia dan diikuti barisan pelanggan laiinya. Pandangan Keiko terpaku pada barisan orang yang membawa kupon diskon onigiri atau bento. Tak sadar Keiko diingatkan oleh manejernya “Furukura-san, jangan lupa menyapa palenggan”. Seketika Keiko mengucapkan “Irasshaimase!” saat ini ada promo pembukaan, silahkan melihat-melihat. Setelah itu, Keiko dengan cermat mengikuti setiap panduan sebagai seorang pegawai toko.

Menjadi seorang karayawan paruh waktu di sebuah minimarket, Keiko mulai mendapat tempat dalam struktur sosial masyarakat yaitu karyawan minimarket. Keiko mengatakan dirinya saat ini adalah bentukan orang-orang disekitarnya. Ia menambahkan tiga puluh persen berkat Izumi, 30 % berkat Sugawara, 20 % berkat manejer dan sisanya berkat orang-orang dari masa lalu seperti Sasaki yang berhenti setengah tahun lalu dan Okasaki. Bahkan Keiko merasa cara bicara telah dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya yaitu di minimarket.

Perjalanan Keiko hingga mendapatkan identitas kembali membawa saya pada pandangan Lacan bahwa subjek manusia itu diwakili oleh bahasa, objek-objek khusus yang disebut “kata-kata”. Istilah teknis Lacan untuk “kata” adalah “penanda”. Bilamana seseorang berbicara atau menulis, ia selalu mewujudkan diri dengan bahasa, dengan penanda-penanda. Ia juga menambahkan kesadaran Konsep tatanan simbolik ini, Lacan hendak memetakan wilayah ketidaksadaran manusia. Yang dimaksud Lacan dengan ranah simbolik adalah struktur penandaan dan bahasa. Menurut Lacan melalui Penanda-penanda subjek itu dapat mewujudkan dirinya. Penanda-penanda ini tersaji dalam bentuk tulisan, nasihat, sindirian, tuturan, larangan, aturan dan larangan yang lebih jauh Lacan sebut sebagai Hukum hasrat. Menurut Lacan subjek terlahir dari serangkaian proses internalisasi hukum hasarat2.

Menurutnya kelahiran subjek juga ditandai dengan keterbagian secara internal, yakni subjek yang-menyatakan dan subjek yang-mengutarakan. Istilah ini diambilnya dari teori linguistik tentang pernyataan dan pengutaraan. Lacan memakainya untuk menjelaskan perbedaan tingkat kesadaran dan ketidaksadaran dalam laku berbahasa. Subjek yang-menyatakan adalah subjek yang secara sadar menyatakan apa yang dipikirkannya kepada orang lain, lain halnya dengan subjek yang-mengutarakan, ada landasan tak sadar dari pernyataan tersebut. Maka pernyataan yang dinyatakan oleh subjek dapat berarti lain jika ditilik dari intensi tidak-sadarnya. Inilah yang disebut Lacan sebagai subjek-terbagi. Yang artinya dalam tindakan berbahasa sehari-hari pun seorang subjek bertindak dibimbing oleh yang-Lain persis karena ketidaksadaran (yang merupakan sumber asali dari setiap laku berbahasa) merupakan wilayah operasi yang-Lain melalui struktur penandaan2.

Beginilah gambaran bagaimana sehingga Keiko memperoleh sebuah identitas sehingga ia mengganp bahwa dirinya telah mendapat tempat di masyarakat. Mungkin Keiko menyadari bahwa apa yang menggerakkan dia sejak ia masih duduk di bangku SD hingga perguruan tinggi dan dunia kerja adalah hasrat. Hasrat untuk menjadi bagian dari masyarakat, mengkonsumsi pananda-penanda dan berusaha taat pada hokum hasarat dan apa pun yang disajikan oleh yang-lain.

Manusia sejak dilahirkan hingga melepaskan diri dari kesatuan-kesatuan eksistensial dalam dunia Real selalu mengalami kekurangan-kekurangan (lack), manusia dianggap selamanya berlubang. Kekurangan-kekurangan yang ada pada Keiko ia lengkapi ketika ia di Minimarket. Ia mendapatkan semuanya, perasaan keterpenuhaan, perasaan menjadi utuh. Hal ini lah yang membuat Keiko akhirnya tetap kembali ke dunia Minimarket. Padalah Keiko sempat mengambil keputusan untuk meninggalakn Minimarket dan mencari pekerjaan tetap dan bukan paruh waktu penuh. Namun, semenjak meninggalkan Minimarket Keiko merasa ada lubang besar yang tiba-tiba muncul. Ada ruang kosong yang belum ia rasakan sebelumnya. Ia memutuskan untuk kembali dan menemukuan dirinya di Minimarket.

Referensi

Suryajaya Martin, 2015. Slavoj Žižek dan Pembentukan Identitas Subjektif Melalui Bahasa. Dikutip tgl 22-03-2024. Link https://indoprogress.com/2015/06/slavoj-zizek-dan-pembentukan-identitas-subjektif-melalui-bahasa

Ihaza, 2017. Psikoanalisis Lacanian: Tahap Kesadaran Simbolik. Dikutip tgl 22-03-2024. Link https://medium.com/@ecceamor/psikoanalisis-lacanian-tahap-kesadaran-simbolik-8c0cf539617


Comments